
Ternate, (tvOne)
Sejumlah guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di daerah terpencil Provinsi Maluku Utara, sering meninggalkan tugas sampai berbulan-bulan, akibatnya mengganggu aktivitas proses belajar mengajar di sekolah.
Guru yang mengajar di SMPN 5 Kecamatan Moari, Kabupaten Halmahera Selatan misalnya, menurut tokoh masyarakat dari daerah terpencil itu, Maudid, guru dan Kepala Sekolah SMPN itu sering meninggalkan tugas sampai berbulan-bulan.
Akibatnya, proses belajar mengajar di SMPN itu tidak berjalan normal, bahkan sering siswa pulang lebih awal karena tidak ada guru yang mengajar di sekolah bersangkutan.
"Kepala Sekolah SMPN 5 tersebut mengaku kepada orang tua siswa bahwa ia pergi ke Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan untuk mengurus penambahan guru dan alasan itu bisa dipahami oleh orang tua siswa," katanya.
Namun belakangan ketahuan kepala sekolah tersebut pergi mengajar di SMA di kampung halamannya di Pulau Moari. Di sana dia mendapat honor dari pihak SMA.
Ia mengatakan, orang tua siswa terpaksa meminta guru SD yang ada di daerah itu untuk mengajar di SMPN 5 tersebut, karena kalau tidak maka siswa tidak akan mendapat pelajar, sementara ujian semester semakin dekat.
Namun hal itu, tidak berjalan secara maksimal, karena para guru SD tersebut harus pula melaksanakan tugas pokok di SD tempat mereka bekerja, sementara mereka umumnya hanya lulusan PGSD yang khusus untuk mengajar di SD.
Mujid mengaku, sudah melaporkan masalah tersebut ke Dinas Pendidikan Nasional Halmahera Selatan dan DPRD setempat, tapi sampai sekarang belum ada tindakan apa-apa, terbukti Kepala Sekolah dan guru di SMP tersebut tetap sering meninggalkan tugas.
Sekretaris Diknas Halsel Muhammad Hartono ketika dikonfirmasi mengaku, belum menerima laporan mengenai hal tersebut secara resmi, tetapi pihaknya akan menurunkan tim ke lapangan dan jika benar maka Kepala Sekolah dan guru yang meninggalkan tugas itu akan dikenai sanksi tegas.